Home » pendidikan » Kurikulum berbasis kompetensi / KBK di SMK
contoh rpp kurikulum 2013 terbaru

Kurikulum berbasis kompetensi / KBK di SMK

Filosofi yang mendasari penerapan KBK pada PPV

Landasan filosofi paling sesuai untuk penerapan PPV masa depan adalah filosofi pragmatisme dan esensialisme. Pragmatisme mendorong peserta didik untuk berpikir dalam orde tinggi, bukan hanya sekedar sampai pemahaman saja. Sedangkan esensialisme menyebutkan bahwa PPV harus menyapkan peserta didiknya agar match dengan permintaan pasar, dalam hal ini adalah kebutuhan tenaga kerja di industri.

Di samping itu penerapan KBK juga didasari pada filosofi Pancasila dimana Pancasila merupakan norma fundamental yang semestinya harus diusahakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Undang- undang SISDIKNAS Bab II pasal 2 juga menegaskan bahwa “Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945”.

 

Kajian ontologi keberadaan KBK di SMK

KBK sudah diterapkan di SMK dan memang seharusnya kurikulum SMK dan SMA dibedakan bukan hanya scientific atau keilmuan saja namun kurikulum SMK harus mampu memadukan scientific-technical yang berarti mampu mengaitkan cara-cara bekerja yang didukung pengetahuan jelas dan memadahi. Kajian ontologi KBK tak lepas dari kajian tentang peran manusia sebagai subyek pendidikan, artinya manusia adalah pelaku dari pendidikan itu sendiri. Peran manusia dalam pendidikan tebagi menjadi dua yaitu sebagai pendidik dan sebagai peserta didik. UU No 14 tahun 2005 menyebutkan bahwa guru adalah seorang profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan menengah. Sedangkan Peserta didik manurut UU no 20 tahun 2003 adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Sedangkan posisi kurikulum dalam filosofi essensialism adalah sebuah perangkat yang diorganisir secara sekuensial berpusat pada kebutuhan pelatih dalam bisnis atau pengalaman terkait industri (Sudira, 2016:28)

Dengan memahami peran tersebut, diharapkan akan mewujudkan proses pendidikan yang harmonis, sehingga mampu mewujudkan cita- cita pendidikan nasional.

 

Kajian epistemologi bagaimana KBK memiliki kebenaran diterapkan di SMK

Kajian epistemologis KBK saya tuangkan dalam beberapa pertanyaan, yaitu:

Apa yang harus diberikan kepada peserta didik?

KBK merupakan pendekatan pengembangan kurikulum yang memfokuskan pada penguasaan kompetensi tertentu berdasarkan tahap- tahap perkembangan peserta didik (Mulyasa,2002:68). Di samping itu TVET mencakup 2 hal pokok yaitu pendidikan (education) dan pelatihan (training) (Sudira, 2016:159). Dua teori tersebut menjelaskan bahwa siswa tidak hanya diajarkan tentang wawasan keilmuan saja namun siswa juga harus belajar bagaimana mengimplementasikan pengetahuannya pada praktikum atau pelatihan. Teori ini erat hubungannya dengan teori Prosser dimana guru harus seseorang yang menguasai apa yang disampaikannya, minimal dia sudah pernah bekerja di industri.

Bagaimana cara memberikannya?

Penyampaian ilmu dalam bangku sekolah tak lepas dari kompetensi pokok guru (Permendiknas no. 16 tahun 2007). Guru SMK harus mampu menyampaikan ilmu kepada siswa baik ilmu yang bersifat afektif maupun ilmu yang kaitannya tentang praktik psikomotorik. Dalam kompetensi personal, penyampaian materi disarankan tidak hanya dengan ceramah saja melainkan harus memanfaatkan teknologi pembelajaran. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada tingkat pemahaman siswa.

PPV dikembangkan dari teori Prosser dan John Dewey. Realita saat ini di SMK belum sepenuhnya mampu menjadikan lingkungan belajar menyerupai lingkungan kerja. Keterbatasan tersebut diantaranya:

  1. Alat yang digunakan praktik siswa belum sama dengan alat yang digunakan dalam industri. Hal ini diakibatkan karena perkembangan teknologi di industri berkembang sangat pesat sehingga memerlukan reaksi cepat tanggap dan pengambilan keputusan yang cepat oleh penyelenggara pendidikan SMK untuk menyesuaikan keadaan tersebut. Di samping itu faktor biaya masih menjadi kendala yang cukup serius, karena alat yang harus disediakan oleh sekolah memiliki harga yang tidak murah.
  2. SMK belum mampu memberikan pendidikan vokasi hanya kepada siapa yang membutuhkan, menginginkan, dan yang bisa menghasilkan profit dengan kemampuannya. Salah satu solusinya misalnya saat proses PPDB calon siswa diberikan tes tentang minat, bakat, dan kemampuan dasarnya dan selanjutnya pembagian jurusan didasarkan pada hasil tes tersebut.
  3. Sebagian Guru/ tenaga pendidik belum memiliki pengalaman bekerja di industri. Idealnya guru/ tenaga pendidik harus memiliki pengalaman bekerja di industri sehingga apa yang diajarkan pada siswa bukan hanya bersifat pengetahuan, namun harus disampaikan hal-hal teknis dan budaya industri yang didapat dari pengalamannya bekerja di industri.

 

Kajian aksiologi kemanfaatan KBK diterapkan di SMK!

Penerapan konsep KBK di SMK bertujuan untuk menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetesi) tugas- tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Mulyasa,2002:27). Masih sejalan dengan Prosser penerapan KBK bertujuan untuk menyiapkan siswa ke dunia kerja dengan menjadikan lingkungan belajar di SMK menyerupai lingkungan kerja mulai dari suasana, tenaga pendidik, kebiasaan (habbit), alat yang digunakan, hingga administrasi. Hasil akhirnya, KBK diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang match dengan kebutuhan industri.

 

PPV = Pendidikan & Pelatihan Vokasional

Content Protection by DMCA.com
Selamat membaca

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.